Pengembangan bioenergi di Indonesia membutuhkan kolaborasi kuat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan media. Asosiasi Pengusaha Batubara dan Energi Indonesia (ASPEBINDO) mendorong penguatan jejaring lintas sektor untuk mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan di Tanah Air.
Dorongan tersebut menjadi salah satu fokus dalam Bioenergy Summit 2026 yang digelar ASPEBINDO pada Rabu, 26 Agustus 2026. Ketua Umum ASPEBINDO Anggawira menilai forum tersebut penting untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan sekaligus menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman.
Kolaborasi Jadi Kunci Pengembangan Bioenergi di Indonesia
Menurut Anggawira, ASPEBINDO akan lebih fokus membangun jejaring agar para pelaku di sektor energi dapat tumbuh bersama dengan memanfaatkan potensi energi baru terbarukan Indonesia. Bioenergy Summit 2026 sendiri berlangsung dalam tujuh sesi dengan melibatkan praktisi untuk membahas beragam aspek bioenergi.
Kolaborasi model pentahelix dinilai penting agar pengembangan bioenergi tidak dilakukan secara sektoral. Kerja sama dibutuhkan sejak tahap riset, penyediaan bahan baku, produksi, hingga pemanfaatan energi.
Baca Juga: Konferensi Clean EDGE Asia 2024: Transformasi Energi Terbarukan Menuju Masa Depan Berkelanjutan
Staf Ahli Bidang Perencanaan Strategis Kementerian ESDM Jisman P. Hutajulu menjelaskan bahwa pengembangan bioetanol masih menghadapi tantangan dari sisi hulu, teknis-operasional, komersial, hingga regulasi. Salah satunya adalah kemungkinan persinggungan kebutuhan bahan baku untuk energi dengan kebutuhan pangan.
Karena itu, diversifikasi bahan baku dibutuhkan agar pengembangan bioetanol tetap mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Teknologi, Infrastruktur, dan Kepastian Pasar Jadi Tantangan
Pengembangan teknologi advanced biofuel juga belum seluruhnya mencapai skala komersial dan masih membutuhkan investasi besar. Kondisi ini membuat riset komprehensif yang melibatkan akademisi serta industri menjadi penting.
Tantangan lainnya adalah kesiapan fasilitas produksi, penyimpanan, distribusi, hingga blending yang belum tersedia secara memadai di seluruh wilayah. Kesenjangan tersebut dapat menjadi hambatan ketika produksi biofuel ditingkatkan dalam skala lebih besar.
Dari sisi komersial, pembangunan fasilitas produksi bioetanol memerlukan modal signifikan. Fluktuasi harga bahan baku seperti molases juga dapat memengaruhi biaya produksi, margin, serta daya saing bioetanol dibandingkan bahan bakar konvensional.
Kepastian pasar melalui mandatori pemanfaatan biofuel, dukungan insentif, serta harmonisasi kebijakan dari sektor hulu hingga hilir menjadi faktor penting bagi perkembangan industri.
Dengan kolaborasi lintas sektor, standar produksi berkelanjutan, kesiapan teknologi, dan kebijakan yang terintegrasi, pengembangan bioenergi di Indonesia berpeluang berlangsung lebih terarah dan berkelanjutan.
Demikian informasi seputar percepatan pengembangan bionergi Indonesia. Untuk berita ekonomi, bisnis dan investasi terkini lainnya hanya di Mehranschool.Org.




