Realisasi investasi migas sepanjang 2024 tercatat sebesar US$17,54 miliar atau setara 89,38% dari target yang dipatok pemerintah sebesar US$19,62 miliar. Meski belum mencapai target penuh, capaian ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 83%.
Namun, investasi migas masih menghadapi berbagai tantangan, baik di sektor hulu maupun hilir. Di hulu, kendala meliputi aspek formalitas, teknis, serta persoalan komersial dan keuangan. Kementerian ESDM mengungkapkan beberapa isu utama seperti perizinan yang rumit, pengadaan lahan, ketersediaan rig, serta tumpang tindih lahan migas.
Sementara itu, di sektor hilir, hambatan lebih banyak terkait dengan operasional kilang yang belum sepenuhnya optimal. Ditjen Migas pun diharapkan lebih proaktif dalam menarik dan memfasilitasi investor agar iklim investasi migas semakin kondusif.
Sebagai respons atas berbagai tantangan tersebut, pemerintah telah melakukan sejumlah langkah reformasi untuk memperkuat daya tarik investasi migas. Pertama, penyederhanaan perizinan melalui pelimpahan kewenangan ke Kementerian Investasi/BKPM untuk efisiensi proses.
Kedua, transparansi data lewat Peraturan Menteri ESDM No.7/2019 serta pembukaan akses data seismik 2D sepanjang 32.200 km di area terbuka. Ketiga, fleksibilitas sistem fiskal dengan opsi kontrak bagi hasil (PSC) gross split atau cost recovery yang memberi kebebasan pada kontraktor.
Keempat, integrasi hulu-hilir melalui penyesuaian harga gas demi mendorong tumbuhnya industri hilir dan mempercepat monetisasi proyek. Kelima, pemberian stimulus fiskal, termasuk insentif untuk rencana pengembangan (POD) yang sebelumnya dinilai tidak ekonomis.
Langkah-langkah ini menjadi bukti komitmen pemerintah dalam mendorong peningkatan investasi migas secara berkelanjutan dan kompetitif di tengah tantangan global.
Demikian informasi seputar proyeksi investasi migas di Indonesia. Untuk berita ekonomi, bisnis dan investasi terkini lainnya hanya di Mehranschool.Org.