Terupdate

Dinas Kebudayaan Sulit Temukan Balian dan Penekun Ilmu Leak

Tim yang beranggotakan 15 budayawan dan akademisi se-Karangasem ini kesulitan mendata balian (dukun) dan penekun ilmu leak. Tim ingin mendata balian dan penekun ilmu leak karena sewaktu-waktu tenaga mereka dibutuhkan untuk transfer ilmu pengetahuan di acara workshop.

Ilmu leak merupakan salah satu ajian kawisesan yang berkembang dibali sejak jaman dahulu peninggalan sekte bhairawa, sehingga ada beberapa orang menganggap Ilmu Leak merupakan ilmu kawisesan asli bali, ini dikarenakan ilmu leak hanya beredar (lebih banyak) di daerah Bali.

Arti kata belum ditemukan makna aslinya, yang jelas dan pasti, leak merupakan tehnik spiritual yang berbasis agama hindu, yang dikembangkan dan berkembang serta diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang masyarakat bali. karena ilmu ini adalah spiritual berbasis agama, maka anggapan beberapa penulis artikel tentang leak, yang menyatakan arti kata leak tersebut adalah penyihir/orang yang mempunyai kemampuan jahat (black magic) itu salah.

Kepala Dinas Kebudayaan Karangasem, I Puti Arnawa, meyakini banyak ada balian dan penganut ilmu leak di setiap kampung. Namun tim kesulitan melakukan pendataan. “Terutama di saat kami perlukan ilmu pengetahuannya sulit dihadirkan dalam kegiatan workshop,” ungkap Putu Arnawa. Sementara akademisi Ida Made Pidada Manuaba mengakui kesulitan melacak tokoh masyarakat penekun ilmu leak. Sehingga ilmu leak sesuai dengan pengalaman mereka sulit didapatkan.

Leak Panengen, merupakan praktisi leak yang lebih condong melakukan perbuatan-perbuatan dharma sebagai tanda kepatuhannya kepada ajarannya, menikmati vibrasi dan sakti-nya dengan melihat secara nyata perbuatannya membantu serta meringankan beban sesamanya, sehingga praktisi tersebut lebih suka membantu, menolong orang yang membutuhkan.

Tim inventaris budaya tradisional dari akademis yang hadir dalam rapat yakni Ida Made Pidada Manuaba, I Made Regeg, dan I Ketut Sandiyasa. Sementara dari budayawan yakni Ida Made Alit, Ida Nyoman Sugatha, AA Gede Raka Buana. Dari praktisi yoga ada Ida Bagus Suta Susila dan sastrawan I Nyoman Tusti Eddy. Dari pendataan yang mereka lakukan hanya mendapatkan tokoh masyarakat yang memahami dewasa ayu dan yang mampu membaca fenomena alam.